51. Belajar ala Permainan Jigsaw

URAIAN SINGKAT

Belajar ala Jigsaw (menyusun potongan gambar) merupakan tehnik yang paling banyak dipraktikkan. Tehnik ini serupa dengan pertukaran kelompok-dengan-kelompok, namun ada satu perbedaan penting:

yakni tiap siswa mengajarkan sesuatu. Ini merupakan alternatif menarik bila ada materi belajar yang bisa disegmentasikan atau dibagi-bagi dan bila bagian-bagiannya harus diajarkan secara berurutan. Tiap siswa mempelajari sesuatu yang, blla digabungkan dengan materi yang dipelajari oleh siswa lain, membentuk kumpulan pengetahuan atau ketrampilan yang padu.

PROSEDUR

  1. Pillhlah materi belajar yang bisa dipecah menjadi beberapa bagian. Sebuah bagian bisa sependek kalimat atau spanjang beberapa paragraf. (Jika materinya panjang, perintahkan siswa untuk membaca tugas mereka sebelum pelajaran.)

Contohnya antara lain:

  • Modul berisi beberapa poin penting.
  • Bagian-bagian eksperimen ilmu pengetahuan
  • Sebuah naskah yang memlliki bagian atau subjudul yang berbeda.
  • Sebuah artikel setelah majalah atau jenis materi  bacaan pendek yang lain.
  1. Hitunglah jumlah bagian yang hendak dipelajari dan jumlah siswa. Bagikan secara adil berbagai tugas kepada berbagai kelompok siswa. Sebagai contoh, bayangkan sebuah kelas yang terdiri dari 12 siswa. Dimisalkan bahwa anda bisa membagi materi pelajaran menjadi tiga segmen atau bagian. Anda mungkin selanjutnya dapat membentuk kuartet (kelompok empat anggota), dengan memberikan segmen 1,2. atau 3 kepada tiap kelompok. Kemudian. perintahkan tiap kuartet atau “kelompok belajar” untuk membaca, mendiskusikan, dan mempelajari materi yang mereka terima. (Jika anda menghen-daki. anda dapat membentuk dua pasang “rekan belajar” terlebih dahulu dan kemudian menggabungkan pasangan-pasangan itu menjadi kuartet untuk berkonsultasi dan saling berbagi pendapat.)
  2. Setelah waktu belajar selesai. bentuklah kelompok-kelompok “belajar ala jigsaw.” Kelompok tersebut terdiri dari perwakilan tiap “kelompok belajar” di kelas. Dalam contoh yang baru saja diberikan. anggota dari tiap kuar­tet dapat berhitung mulai dari 1, 2, 3, dan 4. Kemudian bentuklah kelompok belajar jigsaw dengan jumlah yang sama. Hasilnya adalah empat kelompok trio. Dalam masing-masing trio akan ada satu siswa yang telah mempelajari segmen 1, segmen 2, dan segmen 3. Diagram berikut ini menunjukkan urutannya.
  3. Perintahkan anggota kelompok “jigsaw” untuk mengajarkan satu sama lain apa yang telah mereka pelajari.
  4. Perintahkan siswa untuk kembali ke posisi semula dalam rangka membahas pertanyaan yang masih tersisa guna memastikan pemahaman yang akurat.

VARIASI

  1. Berikan tugas baru misalnya menjawab sejumlah pertanyaan yang didasarkan pada pengetahuan yang akumulatif dari semua anggota kelompok belajar jigsaw.
  2. Beri siswa tanggung jawab untuk mempelajari ketrampilan, sebgai alternatif dari pemberian informasi kognitif. Perintahkan siswa untuk saling mengajarkan ketrampilan yang telah mereka pelajari.

52. Setiap Siswa Bisa Menjadi Guru Sendiri

URAIAN SINGKAT

Ini merupakan strategi mudah untuk mendapatkan partisipasi seluruh kelas dan pertanggungjawaban individu. Strategi ini memberi kesempatan bagi setiap siswa untuk bertldak sebagai “guru” bagi siswa lain.

PROSEDUR

  1. Bagikan kartu indeks kepada tiap siswa. Perintahkan siswa untuk menuliskan pertanyaan yang mereka miliki tentang materi belajar yang tengah dipelajari di kelas (misalnya., tugas membaca) atau topik khusus yang ingin mereka diskusikan di kelas. Dalam sebuah pelajaran tentang cerita pendek Amerika, sebagai misal, guru. dapat membuat landasan untuk diskusi kelas tentanq kisah Sheriey Jackson, The Lottery” dengan membagikan kartu indeks dan meminta. siswa menuliskan sebuah pertanyaan yang mereka miliiki tentang kisah tersebut. Berikut adatah beberapa pertanyaan yang ditulis oleh siswa dan kemudian dibagikan kembali kepada seluruh kelas untuk mendapatkan jawabannya:
    1. Siapa yang hendak disenangkan oleh penduduk desa dengan diadakannya lotre?
    2. Bagaimana ritual lotre bermula?
    3. Mengapa setiap orang terus-menerus melemparkan batu?
    4. Mengapa Mr Summer yang bertanggungjawab atas lotere Itu?
  2. Kumpulkan kartu, kemudlan kocoklah, dan baeik satu-satu kepada siswa. Perintahkan siswa untuk membaca dalam hati pertanyaan atau topik pada kartu yang mereka terima dan pikirkan jawabannya.
  3. Tunjuklah beberapa siswa untuk membacakan kartu yang mereka dapatkan dan memberikan jawabanya.
  4. Setelah memberikan jawaban. perintahkan siswa lain untuk memberi tambahan atas apa yang dikemukakan oleh siswa yang membacakan kartunya itu.
  5. Lanjutkan prosedur ini blla waktunya memungklnkan.

VARIASI

  1. Peganglah kartu-kartu yang telah anda kumpulkan. Buatlah sebuah panel responden. Baca tiap kartu dan perintahkan untuk didiskusikan. Gilirlah anggota panel sesering mungkin.
  2. Perintahkan siswa untuk menuliskan pendapat atau hasll pengamatan mereka tentang materi pelajaran pada kartu. Perintahkan siswa lain untuk mengungkapkan kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap pendapat atau pengamatan tersebut

53. Pemberian Pelajaran Antar Siswa

URAIAN SINGKAT

Ini merupakan strategi untuk mendukung pengajaran sesama siswa di dalam kelas. Strategi ini menempatkan seluruh tanggungjawab pengajaran kepada seluruh anggota kelas.

PROSEDUR

  1. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok. Buatlah sub-sub kelompok dengan jumlah yang sesuai dengan topik yang akan diajarkan.
  2. Beri tiap kelompok sejumlah informasi, konsep, atau ketrampilan untuk diajarkan kepada siswa lain. Berikut adalah beberapa contoh topiknya:
  • Susunan paragraf yang efektif
  • Mekanisme pertahanan psikologis
  • Memecahkan teka-teki matematika
  • Penyebaran AIDS

Topik yang anda berikan kepada siswa harus saling berkaitan.

  1. Peritahkan tiap kelompok untuk menyusun cara dalam menyajikan atau mengajarkan topik mereka kepada slswa  lain. Sarankan mereka untuk menghindari cara , mengajar sistem ceramah atau semacam pembacaan laporan. Doronglah mereka untuk menjadikan pengalarnan belajar sebagai pengalaman yang aktif bagi siswa.
  2. Kemukakan beberapa saran sebagai berikut:
  • Sediakan media visual.
  • Buatiah lakon pemeragaan (jika memungkinkan)
  • Gunakan contoh dan/atau analogi untuk mengemukakan poin-poin pengajaran.
  • Libatkan siswa melalui diskusi. permalnan kuis tugas menulis, sandiwara, imajinasi mental, atau studi kasus.
  • Beri siswa kesempatan untuk mengajukan per-tanyaan.

Sebagai contoh. seorang guru memberikan tugas kepada siswa dalam pelajaran soslologi untuk menyusun presentasi tentang empat isu utama penuaan. Empat sub kelompok dibentuk dan pilihlah format berikut untuk pengajaran sesama siswa:

  • Proses Penuaan: permainan kuis benar/salah tentang fakta-fakta penuaan.
  • Aspek-aspek Fisik Penuaan: Sebuah simulasi tentang aspek-aspek umum penuaan (misalnya, radang sendi, berkurangnya pendengaran, penurunan daya lihat).
  • Stereotip tentang Penuaan: Tugas menulis dimana anggota kelas menulis tentang persepsi masyarakat mengenai penuaan.
  • Hilangnya kemandirian: Sebuah latihan drama yang melibatkan anak-anak yang membicarakan transisi dengan orang tuanya.

Anda juga dapat memilih beberapa metode dari buku ini sebagai strategi pengajaran

  1. Berikan waktu yang mencukupi untuk merencanakan dan mempersiapkannya (bai di dalam maupun di luar kelas). Kemudian perintahkan tiap kelompok untuk menyajikan pelajaran mereka. beri tepuk tangan atas usaha keras mereka.

VARIASI

  1. Sebagai alternatif dari pengajaran kelompok, perintah­kan siswa untuk mengajar atau memberi bimbingan kepada siswa lain secara individual atau dalam kelom­pok kecil.
  2. Beri kesempatan tiap kelompok untuk memberi siswa. tugas membaca sebelum memulai pelajaran mereka.

54. Studi Kasus Bikinan-Siswa

URAIAN SINGKAT

Studi kasus diakui secara luas sebagai salah satu metoda belajar terbaik. Diskusi kasus pada umumnya berfokus pada persoalan yang ada dalam situasi atau contoh konkret. Tindakan yang mesti diambil dan pelajaran yang bisa dipetik, serta cara-cara menangani atau menghindari situasi semacam itu di masa mendatang. Tehnik-tehnik yang berikut ini memungkinkan siswa untuk membuat studi kasus mereka sendiri.

PROSEDUR

  1. Bagilah kelas menjadi pasangan atau trio. Perintahkan mereka untuk membuat studi kasus yang bisa di­analisis dan didiskusikan oleh siswa lain.
  2. Jelaskan bahwa tujuan dan sebuah studi kasus adalah mempelajari sebuah topik dengan mengkaji situasi atau contoh konkret yang mencerminkan topik itu. Berikut adalah beberapa contohnya:
  • Sebuah syair Jepang bisa ditulis untuk menunjukkan cara niembacakannya.
  • Sebuah resume aktual bisa dianalisis untuk mem­pelajari cara menulis resume.
  • Sebuah laporan tentang cara seseorang melakukan eksperimen ilmiah bisa didiskusikan untuk mem­pelajari tentang prosedur ilmiah.
  • Sebuah dialog antara seorang manajer dan karyawan bisa ditelaah untuk mempelajari cara memberikan dukungan positif.
  • Sejumlah langkah yang diambil oleh orang tua dalam situasi konflik dengan seorang anak bisa dikaji untuk mempelajari cara menangani perilaku.
  1. Sediakan waktu yang mencukupi bagi pasangan atau trio untuk membuat situasi kasus singkat yang mengandung contoh atau isu untuk didiskusikan atau sebuah persoalan untuk dipecahkan yang relevah dengan materi pelajaran di kelas.

Sebagai misal, dalam pelajaran sejarah Amerika abad ke-20, guru dapat memilih tiga peristiwa sejarah yang berbeda fcetika Amerika Serikat menginteruensi negara lain. Guru memberi tugas berupa satu. peristiwa sejarah kepada tiap pasangan siswa agar masing-masing dapat membuat studi kasus untuk meninjau kebanyakan luar negeri Amerika.

Studi kasus ini antara lain:

  1. Invasi Teluk Babi
  2. Intervensi tentara di Vietnam
  3. Penugasan tentara ke Somalia

Tiap pasangan selanjutnya menuliskan studi kasus intisari yang secara khusus memerinci kejadian-kejadian yang mengarah kepada keputusan untuk mengirimkan tentara AS ke luar negeri. Pertanyaan-pertanyaan untuk dianalisis antara lain:

  • Apakah alasan utama intervensi AS?
  • Seberapa tahukah khalayak AS tentang keputusan itu?
  • Siapakah yang mengambil keputusan itu?
  • Apa saja presiden yang mengawali munculnya kebijakan luar negeri AS?

4.   Bila studi kasus ini selesai, perintahkan kelompok untuk menyajikannya kepada siswa lain. Beri kesempatan anggota kelompok untuk memimpin diskusi kasus.

VARIASI

  1. Tunjuk beberapa orang siswa untuk telah terlebih dahulu menyiapkan studi kasus untuk siswa lain. (Penyiapan sebuah studi kasus merupakan tugas belajar yang baik.)
  2. Buatlah beberapa kelompok dalam Jumlah genap. Pasangkan kelompok dan perintahkan mereka untuk bertukar studi kasus.

55. Pemberitaan

URAIAN SINGKAT

Ini merupakan cara menarik untuk melibatkan siswa dan memancing minat mereka terhadap topik pelajaran sebelum mereka mengikuti pelajaran. Pendekatan pengajaran sesama siswa ini juga akan menghasilkan banyak materi dan informasi yang bisa diceritakan antarsiswa.

PROSEDUR

  1. Perintahkan siswa untuk membawa artikel, penggalan berita, editorial, dan kartun yang terkait dengan topik pelajaran. Sebagai contoh, seorang guru dapat meminta agar siswa membawa berita koran atau majalah tentang cuaca, misalnya pembahasan tentang pemanasan glo­bal.
  2. Bagilah kelas menjadi sub-sub kelompok dan perintah­kan mereka untuk saling berbagi penggalan berita dan pilihlah dua atau tiga yang paling menarik.
  3. Perintahkan seluruh siswa untuk kembali ke posisi semula dan perintahkan perwakilan dari tiap kelompok untuk berbagi pilihan mereka dengan siswa lain.
  4. Ketika kelompok-kelompok memberikan laporan, dengarkan poin penting yang akan anda bahas dalam kelas dan gunakan informasi itu untuk menyemarakkan diskusi.

VARIASI

  1. Kumpulkan semua unsur berita dari siswa, saliniah, dan bagikan kembali kepada mereka sebagai tindak an untuk sesi pelajaran. Atau perintahkan siswa untuk menyerahkan penggalan berita mereka sebelum pelajaran dimulai. Anda selanjutnya dapat menyalinnya dan mengirimkannya kepada semua siswa sebagai tugas bacaan.
  2. Gunakan butir-butir berita itu sebagai studi kasus atau naskah dasar latihan sandiwara.

56. Poster

uraian singkat

Metoda presentasi alternatif ini merupakan cara yang bagus untuk memberi Informasi kepada siswa secara cepat, memahami apa yang mereka bayangkan, dan memerintahkan pertukaran gagasan antarmereka. Tehnik ini juga merupakan cara baru dan jelas yang memungkinkan siswa mengungkapkan persepsi dan perasaan mereka tentang topik yang tengah anda diskusikan dalam suasana santai.

PROSEDUR

  1. Perintahkan setiap siswa untuk memilih sebuah topik yang berkait dengan topik pelajaran umum atau sub bahasan yang tengah didiskusikan.
  2. Mintalah siswa untuk memajang konsep mereka pada papan poster atau papan buletin. (Anda yang menentukan ukurannya.) Tampilan poster mesti dengan sendirinya menunjukkan isinya; yakni, begitu melihatnya orang dengan mudah memahami gagasannya tanpa perlu Penjelasan leblh lanjut, baik lisan maupun tertulis. Namun demikian, siswa juga boleh menyiapkan satu halaman penjelasan yang berisi uraian lebih rinci dan sekaligus sebagai materi rujukan lebih lanjut.
  3. Selama berlangsungnya pelajaran yang telah ditentukan, perintahkan siswa untuk menempelkan sajian materi visual mereka dan berkeliling mengitari ruangan untuk mengamati dan mendiskusikan poster masing-masing. Sebagai contoh, dalam pembahasan tentang stress pada pelajaran kesehatan, topik-topik yang diberikan mencakup yang berikut ini:
  • Penyebab stres
  • Gejala-gejala stres
  • Pengaruh stres terhadap diri sendiri dan orang lain
  • Pereda stres

Salah seorang siswa menggambarkan gejala stres dengan membuat tampilan poster yang menunjukkan gambar-gambar berikut:

  • Orang kelebihan berat badan yang berdiri pada timbangan
  • Orang meminum minimum beralcohol
  • Dua orang bertengkar
  • Orang sakit kepala

Di bawah tiap gambar diberi paragraf singkat yang menjelaskan bagaimana dan mengapa orang stres dapat menunjukkan gejala-gejala yang digambarkan itu.

4.   Lima belas menit sebelum berakhirnya pelajaran, perintahkan seluruh siswa untuk kembali ke posisi semula dan mendiskusikan apa yang menurut mereka berharga pada kegiatan tersebut.

VARIASI

  1. Anda dapat memilih untuk membentuk tim beranggotakan dua atau tiga, sebagai alternatif dari penugas individual, terutama jika topiknya memiliki lingkup yang terbatas.
  2. Tindaklanjuti sesi poster dengan diskusi panel, dengan menggunakan beberapa siswa yang memajang poster-poster tersebut Sebagai panelis.

Belajar Secara Mandiri

Belajar bersama dan belajar dalam satu kelas penuh bisa ditingkatkan dengan aktivitas belajar mandiri. Ketika siswa belajar dengan caranya sendiri, mereka mengembangkan kemampuan untuk memfokuskan diri dan merenung. Bekerja dengan cara mereka sendiri juga memberi siswa kesempatan untuk memikul tanggung jawab pribadi atas apa yang mereka pelajari. Strategi yang berikut ini merupakan perpaduan tehnik-tehnik yang bisa digunakan di dalam dan di luar kelas.

57. Imajinasi

Uraian singkat

Melalul imaji visual, siswa dapat menciptakan gagasan mereka sendiri. Imaji cukup efektif sebagai suplemen kreatif dalam belajar bersama. Cara ini juga bisa berfungsi sebagai papan loncat menuju proyek atau tugas independen yang pada awalnya mungkin tampak membuat siswa kewalahan.

PROSEDUR

  1. Perkenalkan topik yang akan dibahas. Jelaskan kepada siswa bahwa mata pelajaran ini menuntut kreativitas dan bahwa penggunaan imaji visual dapat membantu upaya mereka.
  2. Perintahkan siswa untuk menutup mata, Perkenalkan latihan relaksasi yang akan membersihkan pikiran-pikiran yang ada sekarang dan benak siswa. Gunakan musik latar, lampu temaram, dan pernafasan untuk bisa mencapai hasilnya.
  3. Lakukan latihan pemanasan untuk membuka “mata batin” mereka. Perintahkan siswa, dengan mata mereka tertutup, untuk berupaya menggambarkan apa yang terlihat dan apa yang terdengar, misalnya ruang tidur mereka, lampu lalulintas sewaktu berubah wama, dan rintik hujan.
  4. Ketika para siswa merasa rileks dan terpanaskan (setelah latihan pemanasan), berikanlah sebuah imaji untuk mereka bentuk. Saran-sarannya meliputi:
  • Pengalaman masa depan
  • Suasana yang asing
  • Persoalan untuk dipecahkan
  • Sebuah proyek yang menanti untuk dikenakan

Sebagai contoh, seorang guru membantu siswa menyiapkan sebuah wawancara kerja. Siswa diberi pertanyaan berikut ini:

  • Apa yang kamu kenakan?
  • Jam berapakah sekarang?
  • Seperti apa sih kantor itu?
  • Kursi seperti apakah yang kamu duduki itu?
  • Di manakah posisi duduk si pewawancara?
  • Seperti apakah si pewawancara itu?
  • Apa yang kamu. rasakan?
  • Apa yang ditanyakan pewawancara kepada kamu?
  • Bagaimana kamu menjawabnya?

5.   Sewaktu menggambarkan imajinya, berikan selang waktu hening secara reguler agar siswa dapat membangun Imaji visual mereka sendiri. Buatlah pertanyaan yang mendorong penggunaan semua indera, semisal;

  • Seperti apakah rupanya?
  • Siapa yang kamu lihat? Apa yang mereka lakukan?
  • Apa yang kamu rasakan?

6.   Akhiri pengarahan imaji dan instruksikan siswa untuk mengingat Imaji mereka. Akhiri latihan itu dengan perlahan.

7.   Perintahkan siswa untuk membentuk kelompok-kelompok kecil dan berbagi pengalaman imaji mereka Perintahkan mereka untuk menjelaskan imaji mereka satu sama lain dengan menggunakan sebanyak mungkin penginderaan. Atau perintahkan mereka untuk enuliskan apa yang mereka imajinasikan.

VARIASI

  1. Setelah siswa mengingat kembali bagaimana mereka akan bertindak dalam situasi tertentu, perintahkan mereka untuk merencanakan bagaimana mereka akan benar-benar bertindak berdasarkan apa yang mereka pikirkan.
  2. Lakukan latihan Imaji di mana siswa mengalami kegagalan. Selanjutnya perintahkan mereka untuk membayangkan atau mengimajinaslkan sebuah keberhasilan.

58. Menulis Di Sini dan Saat Ini

URAIAN SINGKAT

Aktivitas menulis memungkinkan siswa untuk memikirkan pengalaman yang mereka miliki. Sebuah cara dramatis untuk meningkatkan perenungan secara mandiri adalah dengan meminta siswa menuliskan laporan tindakan kala kini (present tense) tentang sebuah pengalaman yang mereka miliki (seakan itu terjadi di sini dan sekarang).

PROSEDUR

  1. Pilihlah jenis pengalaman yang anda ingin siswa menuliskannya. Pengalaman itu bisa dari masa lalu atau masa depan. Di antara kemungkinannya adalah:
  • Persoalan sekarang.
  • Acara keluarga.
  • Hari pertama menjalani pekerjaan baru.
  • Penyajian materi.
  • Pengalaman dengan seorang teman.
  • Situasi belajar.
  1. Jelaskan kepada siswa tentang pengalaman yang anda pilih untuk tujuan penulisan perenungan. Katakan pada mereka bahwa cara yang balk untuk merenungkan sebuah pengalaman adalah dengan menghidupkannya 5 kembali atau mengalaminya untuk pertama kalinya di dini dan sekarang juga. Cara ini akan menimbulkan dampak yang lebih jelas dan lebih dramatis ketimbang menulis tentang sesuatu “di suatu tempat dan dahulu” atau dalam waktu yang kelak akan datang.
  2. Sediakan kertas yang putih bersih untuk menulis. Pintakan privasi dan suasana hening.
  3. Perintahkan siswa untuk menulis, dalam kala kini (present tense), tentang pengalaman yang telah dipilih. Perintahkan mereka untuk memulai dari awal pengalaman dan menuliskan apa yang mereka dan orang lain alami dan rasakan, semisal, “Aku berdiri di depan teman-teman sekelas untuk menyajikan materi. Aku benar-benar ingin terlihat percaya diri. . .” perintahkan siswa untuk menulis sebanyak yang mereka suka tentang kejadian yang berlangsung dan perasaan yang ditimbulkan.
  4. Beri waktu yang cukup untuk menulis. Siswa jangan sampai merasa diburu waktu. Bila sudah selesai, perintahkan mereka untuk membaca hasil renungan mereka di sini dan sekarang.
  5. Diskusikan tindakan-tindakan baru apa yang mungkin akan mereka ambil di masa mendatang.

VARIASI

  1. Untuk membantu siswa mendapatkan kegairahan dalam menulis imajinatif, pertama-tama lakukan latihan imajinasi mental atau laksanakan diskusi kelompok yang relevan dengan topik yang anda tugaskan kepada mereka.
  2. Perintahkan siswa untuk saling bercerita tentang yang telah mereka tulis. Salah satu alternatifnya adalah dengan memerintahkan sejumlah siswa untuk membacakan karya mereka yang sudah rampung. Alternatif yang kedua adalah dengan meminta pasangan untuk saling bercerita tentang apa yang mereka tulis.

59. Peta Pikiran

Urian singkat

Pemetaan pikiran merupakan cara kreatif bagi tiap siswa untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari, atau merencanakan tugas baru. Meminta siswa untuk membuat peta pikiran memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dengan jelas dan kreatif apa yang telah mereka pelajari atau apa yang tengah mereka rencanakan.

PROSEDUR

  1. Pilihlah topik untuk pemetaan pikiran. Beberapa kemungkinannya antara lain:
  • Sebuah masalah atau isu yang anda ingin siswa membuatkan gambaran penanganannya.
  • Sebuah konsep atau ketrampilan yang telah anda ajarkan.
  • Sebuah tugas yang mesu direncanakan penyelesaiannya oleh siswa.
  1. Buatkan sebuah peta pikiran sederhana untuk siswa dengan menggunakan warna, gambar, atau simbol. Salah satu contohnya adalah perjalanan ke toko grosir dimana seseorang berbelanja berdasarkan peta pikiran yang mengkategorikan butir-butir yang diperlukan sesuai dengan konter di mana barang belanjaan itu dapat dijumpai (misalnya, konter produk susu, produk alami, dan makanan beku). Jelaskan bagaimana warna gambar, dan simbol dalam peta pikiran anda meningkatkan seluruh kerja pikiran (versus pemikiran otak kiri kanan). Perintahkan siswa untuk menyisipkan contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari mereka yang dapat mereka buatkan peta pikirannya.
  2. Sediakan kertas, spidol, dan materi sumber lain yang menurut anda akan membantu siswa menciptakan peta pikiran yang semarak dan cerah. Tugaskan siswa untuk membuat pemetaan pikiran. Sarankan agar mereka memulai peta mereka dengan membuat sentra gambar yang menggambarkan topik atau gagasan utamanya. Selanjutnya. doronglah mereka agar memecah keseluruhannya menjadi unsur-unsur yang lebih kecil dan menggambarkan unsur-unsur ini di sekeliling peta (menggunakan warna dan grafis). Perintahkan mereka untuk mengungkapkan tiap gagasan menggunakan gambar, dengan menyertakan sedikit mungkin kata-kata. Setelah itu. mereka dapat memerincinya di dalam pikiran mereka.
  3. Sediakan waktu yang banyak bagi siswa untuk menyusun peta pikiran mereka. Sarankan mereka untuk melihat karya siswa lain guna mendapatkan gagasan.
  4. Perintahkan siswa untuk saling bercerita tentang peta pikira mereka. Lakukan diskusi tentang manfaat dari cara pengungkapan gagasan kreatif ini.

VARIASI

  1. Berikan tugas pembuatan peta pikiran dalam tim, sebagai alternatif dari pembuatan peta pikiran secara perseorangan.
  2. Gunakan komputer untuk membuat peta pikiran.

60. Belajar Sekaligus Bertindak

URAIAN SINGKAT

Belajar sekaligus bertindak memberi siswa kesempatan untuk mengalami penerapan topik dan isi materi yang dipelajari atau didiskusikan di kelas dalam situasi kehidupan sesungguhnya. Sebuah proyek luar-kelas menghadapkan mereka pada cara penemuan dan memungkinkan mereka untuk menjadi kreatif dalam bertukar pendapat tentang penemuan mereka dengan sesama siswa. Keunggulan dari kegiatan ini adalah bahwa ia bisa digunakan dengan mata pelajaran apapun.

PROSEDUR

  1. Perkenalkan topik kepada siswa dengan menyediakan sejumlah informasi pendukung melalui pengajaran berbasis-ceramah singkat dan diskusi kelas.
  2. Jelaskan bahwa anda akan memberi mereka kesempatan untuk mengalami kejadian seputar topik pelajaran untuk pertamakali dengan melakukan “kunjungan lapangan” menuju situasi kehidupan sesungguhnya.
  3. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok beranggotakan empat hingga lima orang dan perintahkan mereka untuk menyusun sebuah daftar pertanyaan dan/atau hal khusus yang mesti mereka cari selama “kunjungan lapangan.”
  4. Perintahkan sub-sub kelompok untuk menempelkan butir-butir pertanyaan mereka dan berbagi pendapat tentangnya dengan siswa lain.
  5. Para siswa akan mendiskusikan butir-butir itu dan menyusun daftar umum untuk digunakan oleh setiap siswa.
  6. Beri siswa tenggat waktu (misalnya satu minggu) dan arahkan mereka untuk mengunjungi lokasi atau beberapa lokasi dan menggunakan daftar pertanyaan untuk mewawancarai atau mengamati. Mereka boleh memilih tempatnya, atau anda mungkin perlu membuat penugasan khusus untuk menghindari duplikasi atau agar terfadi persebaran siswa secara merata. Sebagai contoh. siswa dapat diminta untuk mengunjungi tempat-tempat usaha semisal toko eceran, restoran cepat saji, hotel atau bengkel mobil. Mereka selanjutnya mengun­jungi tempat-tempat usaha ini sebagai pelanggan untuk mengetahui bagaimana pelayanan terhadap mereka.
  7. Pertanyaan-pertanyaannya harus spesifik dan memungkinkan untuk dilakukan pembandingan dengan temuan sesama siswa.

Sebagai contoh, butir-butir pengamatan berikut ini cocok dengan layanan konsumen:

  • Berapa lamakah waktu yang diperlukan karyawan untuk melayani pelanggan?
  • Apakah karyawan itu tersenyum?
  • Apakah karyawan itu sopan dan ramah?
  • Apakah karyawan itu mengajukan pertanyaan terbuka untuk memahami persoalannya? Apakah karyawan Itu menggunakan tehnik mendengarkan aktif? Beri contohnya.
  • Apakah karyawan itu memberikan pemecahan masalah?
  • Apakah kamu, selaku pelanggan, senang dengan pengalaman Itu? Mengapa demikian, atau mengapa tidak demikian?

5.   Perintahkan siswa untuk berbagi temuan mereka dengan siswa lain melalui sejumlah metoda kreatif (misalnya, dengan drama atau peragaan singkat, wawancara bohong-bohongan, diskusi panel atau permainan).

VARIASI

  1. Anda mungkin perlu membentuk tim beranggotakan dua atau tiga siswa sebagai alternatif dari pemberian tugas individual.
  2. Sebagai ganti penugasan seluruh siswa untuk menyu­sun sebuah daftar pertanyaan atau garis-garis besar pengamatan, tiap siswa dapat membuat daftar mereka sendiri.

61. Jurnal Belajar

URAIAN SINGKAT

Bila siswa diminta untuk menggambarkan secara tertulis pengalaman belajar yang telah mereka jalani mereka akan terdorong untuk menyadari apa yang mereka alami dan mampu mengungkapkan secara tertulis. Tehnik yang banyak digunakan dalam hal ini adalah jurnal belajar, sebuah catatan reflektif atau diari yang dibuat oleh siswa dari hari ke hari.

PROSEDUR

  1. Jelaskan kepada siswa bahwa pengalaman tidak mesti merupakan guru terbaik dan bahwa sangatlah penting untuk merenungkan kembali pengalaman guna menyadari pelajaran apa yang kita dapatkan dari pengalaman itu.
  2. Perintahkan siswa untuk membuat jurnal tentang refleksi dan pembelajaran mereka.
  3. Sarankan agar mereka menulis, dua kali seminggu, sebagian dari apa yang mereka pikirkan dan rasakan tentang hal-hal yang mereka pelajari. Katakan pada mereka untuk mencatat semua komentar itu sebagai catatan pribadi (tanpa khawatir dengan kesalahan eja tata bahasa, dan tanda baca).
  4. Perintahkan siswa untuk berfokus pada beberapa semua kategori berikut ini:
  • Apa yang belum jelas bagi mereka atau apa yang mereka tidak setujui.
  • Bagaimana kaitan antara pengalaman belajar dengan kehidupan pribadi mereka.
  • Bagaimana pengalaman belajar terrefleksikan dalam hal-hal lain yang mereka baca, lihat dan kerjakan.
  • Apa yang telah mereka amati tentang diri mereka dan orang lain semenjak merasakan pengalaman belajar.
  • Apa yang mereka petik dari pengalaman belajar. Apa yang hendak mereka kerjakan sebagai hasil dari pengalaman belajar.
  1. Kumpulkan, baca, dan komentari jumal tersebut secara berkala agar siswa menjadi merasa bertanggungjawab untuk menyimpannya dan agar anda dapat menerima umpan balik tentang hasil belajar mereka.

VARIASI

  1. Sebagai alternatif dari pemberian buku catatan kosong, siswa bisa disediakan formulir terstruktur untuk menyusun entri jurnal mereka.
  2. Perintahkan siswa untuk menulis selama pelajaran langsung, bukannya setelah selesai pelajaran.

62. Kontrak Belajar

URAIAN SINGKAT

Belajar yang timbul dan keinginan sendiri acapkali lebih mendalam dan lebih permanen ketimbang belajar yang diarahkan oleh guru. Namun demikian, anda mesti memastikan bahwa kesetujuan terhadap apa dan bagaimana sesuatu akan dipelajari haruslahjelas. Salah satu cara untuk mewujudkan hal ini adalah dengan kontrak belajar.

PROSEDUR

  1. Perintahkan tiap siswa untuk mernilih sebuah topik yang dia ingin pelajari sendiri.
  2. Sarankan tiap siswa untuk berfikir cermat melalui rencana belajar. Berikan waktu yang banyak untuk riset dan konsultasi dalam menyusun rencana.
  3. Mintalah siswa untuk menulis kontrak yang mencakup kategori-kategori berikut ini:
  • Tujuan belajar yang ingin dicapai siswa.
  • Pengetahuan atau ketrampilan khusus yang mesti dikuasai.
  • Kegiatan belajar yang akan dilakukan.
  • Bukti yang akan diajukan siswa untuk menunjukkan bahwa tujuan itu telah tercapai.
  • Tanggal penyelesaian.

Berikut ini adalah sebuah kontrak yang dibuat oleh siswa yang ingin mengerjakan resumenya.

Topik: Mengungkapkan diri saya dengan baik secara tertulis.

Tujuan pembelajaran: Memilih format yang tepat.

Memadatkan empat halaman menjadi dua.

Menulis tujuan karier yang lebih jelas.

Aktivitas pembelajaran: Meninjau resume sampel.

Memilih sampel yang saya suka dan mengomentarinya.

Menyiapkan tulisan berdasarkan kritikan guru.

Menulis ulang bila perlu.

Menyerahkan salinan kepada tiga siswa dan meminta komentar mereka.

Menyiapkan resume akhir.

Tanggal penyelesaian: Dalam dua minggu.

  1. Temui siswa dan diskusikan kontrak yang diajukan. Sarankan materi belajar yang ada kepada siswa. lcarakan perubahan yang Ingin anda lakukan.

VARIASI

  1. Buatlah kontrak belajar kelompok, sebagai alternatif dari kontrak belajar individu.
  2. Sebagai alternatif dari pemberian kebebasan memilih, pilihkan topik dan tujuan untuk siswa atau tawarkan pilihan yang terbatas. Namun demikian. berikan pilihan yang banyak tentang cara mempelajari topik itu.

Belajar yang Efektif

Aktivitas belajar yang efektif membantu siswa mengenali perasaan, nilai-nilai, dan sikap mereka. Topik yang paling tehnis sekalipun melibatkan belajar yang efektif. Sebagai contoh, apa gunanya kemampuan menggunakan komputer jika siswa cemas dan tidak yakin dengan diri sendiri ketika mereka menggunakan komputer? Strategi yang berikut ini dirancang untuk menimbulkan kesadaran akan perasan, nilai-nilai, dan sikap yang menyertai banyak topik kelas. Strategi ini dengan halus mendesak siswa untuk mengenali keyakinan mereka dan bertanya pada diri sendiri apakah mereka memiliki komitmen terhadap cara-cara baru dalam mengerjakan segala hal.

63. Mengetahui yang Sebenarnya

URAIAN SINGKAT

Acapkali, sebuah topik dapat menlngkatkan pemahaman dan kepekaan terhadap orang atau situasi yang tidak akrab bagi siswa. Salah satu cara terbaik untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menciptakan aktivitas efektif yang menstimulasi keingintahuan tentang seperti apa sebenarnya orang atau situasi yang kurang akrab tersebut.

PROSEDUR

  1. Pilihlah tipe orang atau situasi yang anda ingin siswa mempelajarinya. Berikut adalah beberapa contohnya:
  • Seperti apa rasanya berada di kalangan minoritas.
  • Seperti apa rasanya berada dalam periode waktu yang berbeda dalam sejarah.
  • Seperti apa rasanya menjadi orang yang berasal dan budaya yang berbeda.
  • Seperti apa rasanya menjadi orang yang memiliki persoalan atau tantangan pelik.
  1. Buatlah cara untuk mensimulasikan orang atau situasi itu. Di antara cara-cara untuk melakukannya adalah sebagai berikut:
  • Perintahkan siswa untuk berbusana seperti yang dikenakan oleh orang-orang dalam situasi itu. Atau perintahkan mereka untuk menangani peralatan, perkakas, aksesoris, atau barang-barang milik lainnya dari orang atau situasi itu atau dengan terlibat dalam kegiatan tertentu yang biasa dilakukan orang itu.

Sebagai contoh, kondisikan siswa pada proses normal penuaan dengan memberi mereka kacamata yang berlumuran noda pelembab, membawa kacang buncis dalam keranjang, katun pembersih telinga, dan mengenakan kaus kaki bersepatu sandal. Kemudian perintahkan mereka untuk mengambil pensil dan kertas dan menuliskan nama mereka, alamat dan nomor telepon, atau untuk berjalan-jalan ke luar ruang kelas, membuka pintu, dan mencari-cari jalan.

  • Tempatkan siswa dalam situasi di mana mereka diharuskan merespons sesuai peran yang harus mereka mainkan.
  • Gunakan analogi dalam membuat simulasi: Buatlah sebuah skenario yang tidak terlalu asing bagi siswa yang isinya menjelaskan situasi yang tidak begitu mereka kenal. Sebagai contoh, anda dapat meminta seluruh siswa yang kidal untuk menggambarkan seorang yang secara budaya berbeda dari siswa yang lain.
  • Tirukan gerak-gerik seseorang dan perintahkan siswa untuk mewawancarai anda dan mencari tahu tentang pengalaman, pandangan dan perasaan anda. Sebagai contoh, seorang guru sains (Kate Brooks) Berpakaian seperti Galileo dan menyajikan drama tentang kehidupannya dan dilema etika yang dia (Galileo) hadapi. Musik jaman renaisans dimainkan dan lilin dinyalakan di planetarium, sementara Galileo mendapatkan temuan dengan teleskop. Drama Itu berakhir dengan dihukumnya galileo dan upayanya untuk mempertahankan ajarannya. Pada akhir drama itu, siswa menulis sebuah esai tentang persoalan etika yang dihadapi Galileo, memberikan pandangan mereka tentang keputusan Galileo, dan menebak apa yang akan mereka lakukan.

3.   Tanyakan kepada siswa bagaimana rasanya simulasi tersebut. Diskusikan pengalaman sewaktu mengenakan sepatu orang lain. Perintahkan siswa untuk mengenali tantangan yang dimunculkan oleh orang atau situasi yang tidak begitu mereka kenal.

VARIASI

  1. Jika memungkinkan, lakukan pertemuan nyata dengan situasi atau orang yang tidak mereka kenal akrab.
  2. Buatlah pengalaman imaji mental dl mana siswa memvisualkan orang atau situasi yang tidak mereka kenal akrab.

64.Pemeringkatan pada Papan Pengumuman

URAIAN SINGKAT

Banyak materi belajar yang tidak mengandung muatan benar atau salah. Ketika terdapat nilal-nilai, opini, gagasan, dan preferensi tentang topik yang anda ajar-kan, aktivitas ini bisa digunakan untuk menstimulasi pemikiran dan diskusi.

PROSEDUR

  1. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok beranggotakan empat hingga enam orang.
  2. Berikan kepada siswa daftar yang berisi salah satu dari yang berikut ini:
  • Nilai-nilai yang mereka pegang (misalnya, 1. Loyalitas, 2. … dll)
  • Opini yang mungkin mereka dukung (misalnya, 1. Pencegahan kejahatan. harus menjadi perhatian utama bangsa kita, 2. …..dll)
  • Solusi alternatif atas suatu masalah (misalnya. Hematlah energi dengan 1. Berkendara secara 3 in 1. 2. …. dll)
  • Pilihan keputusan yang mereka atau orang lain hadapi (misalnya, 1. Melegalkan narkoba, 2. …. dll)
  • Atribut yang mereka kehendaki (misalnya, l tampil menawan. 2. …. dll)
  • Preferensi yang mereka miliki (misalnya, I. Edgar Allan Poe, 2……,dll)

Sebagai contoh. siswa dapat ditanya sifat apa yang mereka harapkan ada pada seorang teman: bisa diandalkan, lucu, keren, pengertian, dll)

4.   Berikan tiap kelompok buku bloknot. Perintahkan mereka untuk menuliskan tiap butir dalam daftar itu pada kertas terpisah.

5.   Buatlah “papan pengumuman” dimana sub-sub kelompok dapat memajang preferensi urutan peringkat mereka. (kertas Bloknote boleh ditempelkan pada papan tulis. whiteboard, atau pada kertas karton lebar.)

6.   Bandingkan dan bedakan pemeringkatan antar kelom­pok yang kini dipajang.

VARIASI

  1. Upayakan untuk mencapai konsesus seluruh siswa.
  2. Perintahkan siswa untuk mewawancarai anggota kelompok yang peringkatnya berbeda dengan peringkat mereka.

65. Apa? Lantas Apa? Dan Sekarang Bagaimana?

uraian singkat

Nilai dari aktivitas belajar eksperiensial akan meningkat dengan meminta siswa untuk merenungkan kembali pengalaman yang baru mereka alami dan menggali implikasinya. Periode perenungan ini seringkali disebut sebagai pengolahan atau debriefing (pewawancaraan-pentanyajawaban). Sebagian kalangan pendidik kini menggunakan istilah harvesting (pemanenan). Berikut adalah urutan tiga tahap untuk memanen pengalaman yang kaya akan pembelajaran.

PROSEDUR

  1. Kondisikan siswa ke dalam pengalaman yang sesuai dengan topik yang anda ajarkan. Pengalaman-pengalaman ini dapat mencakup yang berikut ini:
  • Permainan atau latihan simulasi
  • Kunjungan lapangan Tayangan Video
  • Proyek belajar praktik
  • Debat
  • Drama
  • Latihan imaji mental

2.   Perintahkan siswa untuk saling bercerita tentang apa yang terjadi pada mereka selama latihan tersebut:

  • Apa yang mereka lakukan?
  • Apa yang mereka amati? Pikirkan?
  • Apa yang mereka rasakan selama latihan itu?

3.   Selanjutnya, perintahkan siswa untuk bertanya pada diri sendiri, “Lantas, bagaimana?”

  • Manfaat apa yang mereka dapatkan dari latihan itu?
  • Apa yang mereka pelajari? Dan Pelajari kembali?
  • Apa implikasi dari aktivitas itu?
  • Bagaimanakah kaitan antara pengalaman itu (jika itu berupa simulasi atau drama) dengan dunia nyata?

4.   Terakhir, perintahkan siswa untuk memikirkan “Sekarang bagaimana? ”

  • Bagaimana kalian ingin melakukan sesuatu secara berbeda di masa mendatang?
  • Bagaimana kalian dapat memperluas pembelajaran yang kalian dapatkan?
  • Langkah-langkah apa yang dapat kallan ambil untuk menerapkan apa yang telah kalian pelajari?

VARIASI

  1. Batasi diskusi pada “‘Apa?” dan “Lantas bagaimana?”
  2. Gunakan kedua pertanyaan ini untuk menstimulir penulisan jurnal (lihat strategi 61, “Jurnal Belajar”).

66. Penilaian-Diri secara Aktif

Uraian SINGKAT

Melalui metoda ini, siswa mampu berbagi sikap mereka tentang sebuah mata pelajaran melalui penilaian-diri. Metoda ini memungkinkan guru untuk mengukur perasaan dan keyakinan siswa, dan berfungsi sebagai papan loncat bagi diskusi kelas.

PROSEDUR

  1. Buatlah sebuah daftar pernyataan yang akan dibacakan kepada siswa untuk menilai sikap dan perasaan mereka tentang pelajaran yang diberikan.

Sebagai contoh, seorang guru menyusun pernyataan-pernyataan berikut ini:

  • Saya menginginkan pekerjaan yang memungkinkan saya untuk bekerja dengan orang lain.
  • Saya menginginkan pekerjaan yang memberi saya pendapatan paling besar, berkat kemampuan saya.
  • Saya menginginkan pekerjaan yang aman dan bebas dari rasa khawatir akan terus-menerus dievaluasi.
  • Saya menginginkan pekerjaan yang tidak perlu saya lembur di rumah.
  • Saya menginginkan pekerjaan yang tidak menuntut banyak bepergian.
  • Saya menginginkan pekerjaan memiliki nilai guna bagi masyarakat.
  • Saya menginginkan pekerjaan yang terus-menerus memacu peningkatan kemampuan saya.

2.   Perintahkan siswa untuk berdiri di bagian belakang ruangan, dengan menempatkan meja dan kursi di satu sisi ruangan.

3.   Buatlah skala penilaian angka dari satu hingga lima di depan kelas dengan menggunakan papan tulis atau dengan menempelkan angka pada dinding.

4.   Jelaskan bahwa anda akan membacakan sejumlah pernyataan. Setelah mendengarkan pernyataan-pernyataan itu, siswa harus berdiri di depan angka penilai­an yang paling cocok dengan sikap mereka terhadap pengetahuan seputar mata pelajaran. Tergantung pada mata pelajarannya, angka 1 bisa berarti “Sangat Setuju” atau “Paham Betul.” sedangkan angka 5 untuk “Sangat Tidak Setuju” atau Tidak Paham.”

5.   Sewaktu pernyataan dibacakan, siswa harus bergerak ke bagian ruang kelas yang paling cocok dengan penge­tahuan atau posisi mereka. Setelah terbentuk sejumlah barisan di depan berbagai posisi. perintahkan beberapa siswa untuk saling menjelaskan alasan mereka memilih posisi itu.

6.   Setelah mendengarkan pendapat siswa lain. Perintah­kan sembarang siswa yang ingin mengubah posisi mereka pada skala itu untuk melakukannya.

7.   Lanjutkan membaca pernyataan atau fakta individual dan meminta siswa itu bergerak ke angka yang paling cocok dengan opini atau pengetahuan mereka.

8.   Selanjutnya, bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok. Beri mereka salinan tertulis dari pernyataan-pernyataan itu dan perintahkan mereka untuk mendiskusikannya.

9.   Sekarang, perintahkan siswa untuk secara pribadi mencocokkan kembali pendapat mereka terhadap butir. Perintahkan mereka untuk menunjuk satu angka pada tiap pernyataan yang mencerminkan tingkat kesetujuan atau ketidaksetujuan mereka.

variasi

  1. Dalam kelas yang jumlah siswanya lebih besar, perin­tahkan siswa untuk terlebih dahulu memilih sebuah jawaban terhadap pernyataan-pernyataan itu dan kemudian bergerak ke bagian-bagian ruangan yang telah dinomori.
  2. Mulailah dengan diskusi kelompok kecil dan kemudian lakukan penilaian individual (pribadi).

67. Peraga Peran

URAIAN SINGKAT

Aktivitas ini merupakan cara menarik untuk menstimulasi diskusi tentang nilai dan sikap. Siswa diminta untuk menominasikan sosok-sosok terkenal yang mereka pandang sebagai peraga peran dari ciri-ciri yang berkaitan dengan sebuah topik yang tengah dipelajari di kelas.

PROSEDUR

1. Bagilah siswa nienjadi sub-sub kelompok beranggotakan lima atau enam orang, dan berikan kepada tiap kelom­pok selembar kertas dan bolpoin.

  1. Perintahkan tiap kelompok untuk mengenali tiga siswa yang akan mereka kenali sebagai perwakilan dari mata pelajaran yang tengah didiskusikan. Dalam pelajaran musik, sebagai misal, mereka dapat memilih Elton John, Billy Joel, dan Stevie Wonder.
  2. Setelah mereka mengenali tiga sosok terkenal, perintah­kan mereka untuk membuat daftar karakteristik yang dimiliki oleh ketiganya yang mengkualifikasi mereka sebagai contoh atau peraga peran untuk mata pelajaran yang tengah mereka diskusikan. Mereka mesti mendaftar orang dan karakteristik pada kertas dan menempelkannya pada dinding.
  3. Perintahkan siswa untuk kembali ke posisi semula dan membandingkan daftar mereka, perintahkan tiap kelompok untuk menjelaskan alasan yang melandasi pilihan mereka.
  4. Arahkan siswa dalam sebuah diskusi tentang berbagai persepsi di kalangan siswa.

VARIASI

  1. Sebagai alternatif dari menyebut orang sungguhan, perintahkan siswa untuk memilih karakter fiksional.
  2. Berikan kepada tiap kelompok daftar khusus tentang orang yang merupakan perwakilan atau tokoh dari mata pelajaran yang didiskusikan.

Pengembangan Keterampilan

Salah satu tujuan terpenting dari pendidikan di jaman sekarang adalah pemerolehan keterampilan untuk kebutuhan pekerjaan modern. Terdapat keterampilan tehnis seperti menulis dan komputasi. Ada pula keterampilan non-tehnis semisal mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan jelas. Ketika siswa berupaya mempelajari keterampilan-keterampilan baru dan meningkatkan kemampuan yang ada, mereka perlu mempraktikannya secara efektif dan mendapat umpan balik yang berguna. Strategi-strategi yang berikut ini merupakan cara-cara yang berbeda untuk mengembangkan ketrampilan. Beberapa di antaranya cukup intens dan sebagian lagi menyenangkan. Bermacam pemeranan ditampilkan secara khusus.

68. Formasi Regu Tembak

Uraian singkat

Ini merupakan format yang cepat dan dinamis yang bisa digunakan untuk berbagai macam tujuan, misalnya menguji dan memerankan suatu lakon. Format ini menampilkan pasangan secara bergilir. Siswa mendapat peluang untuk merespon dengan cepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara bertubi-tubi atau jems tantangan lain;

PROSEDUR

  1. Tetapkan tujuan anda untuk menggunakan “regu tembak.” Berikut Ini adalah contohnya bila yang menjadi tujuan anda adalah pengembangan kemampuan:
  • Siswa dapat menguji atau melatih satu sama lain.
  • Siswa dapat melakonkan (mendramatisasi) situasi yang diberikan kepada mereka.
  • Siswa dapat mengajar satu sama lain.

Anda juga dapat menggunakan strategi ini untuk situasi lain. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Siswa dapat mewawancarai temannya untuk mengetahui pendapat dan pandangannya. Siswa dapat mendiskusikan kutipan atau naskah Pendek.
  1. Susunlah kursi dalam formasi dua barisan berhadapan. Sediakan kursi yang cukup untuk seluruh siswa kelas.
  2. Pisahkan kursi-kursi menjadi sejumlah regu berangggotakan tiga hingga lima siswa pada tiap sisi atau deret. Formasi ini bisa tampak seperti gambar berikut:
  1. Bagikan pada tiap siswa x sebuah kartu berisi sebuah tugas atau pekerjaan yang akan dia mintakan untuk dijawab oleh siswa y yang duduk berhadapan dengannya. Gunakan salah satu dari yang berikut ini:
  • Sebuah topik wawancara (misalnya, ajukan kepada siswa yang duduk di hadapanmu pertanyaan ini:

“Bagaimana perasaanmu terhadap karakter ____ dalam buku _____?”)

  • Pertanyan tes (misalnya, tanyakan kepada siswa yang duduk di hadapanmu, “Apa rumus untuk ____?”)
  • Naskah pendek atau kutipan (misalnya, tanyakan kepada siswa yang duduk di hadapanmu pendapatnya tentang frase “Kamu tidak memiliki sesuatu yang banyak membantu mewujudkan cita-citamu. )
  • Sebuah karakter untuk dilakonkan/diperankan (misalnya, perintahkan siswa yang duduk di hada­panmu untuk memerankan seseorang yang harus  menasehati kawannya untuk tidak minum-minuman keras sambil mengemudi)
  • Tugas mengajar (misalnya, perintahkan siswa y duduk di hadapanmu untuk mengajarkan kepadamu kapan menggunakan titik-dua dan titik-koma)

Berikan kartu yang berbeda untuk tiap anggota x dari sebuah regu.

Sebagai contoh, seorang guru tengah melatih siswa untuk melakukan tatapan mata yang baik dan berbicara dengan lancar. Guru memberikan satu dari kartu-kartu berikut ini kepada anggota x dari tiap regu:

  • Perintahkan, siswa yang duduk di hadapanmu untuk memberikan pendapatnya tentang presiden Indonesia yang sekarang.
  • Perintahkon siswa yang duduk di hadapanmu untuk menceritakan tentang masa kanak-kanaknya.
  • Perintahkan siswa yang duduk di hadapanmu untuk menjelaskan ciri-ciri dan keunggulan dari pastagigi yang dia gunakan.
  • Perintahkan siswa yang duduk di hadapanmu untuk menceritakan tentang hobi dan minatnya.

5.   Mulailah tugas pertama. Dalam waktu yang tidak begitu lama, umumkan bahwa sekaranglah waktunya bagi siswa y untuk berpindah satu kursi di sebelah kirinya di dalam regunya. Jangan merotasi atau memindahkan siswa x. Perintahkan siswa x untuk “menembakkan” tugas atau pertanyaannya kepada siswa y yang duduk di hadapannya. Lanjutkan dengan jumlah babak sesuai dengan jumlah tugas yang anda berikan.

variasi

  1. Baliklah peran agar siswa x bisa menjadi siswa y.
  2. Dalam beberapa situasi, bolehjadi akan lebih menarik dan lebih tepat untuk memberikan tugas yang sama kepada tiap anggota regu. Dalam hal ini, siswa y akan diminta untuk menjawab instruksi yang sama untuk tiap anggota regunya. Sebagai contoh, seorang siswa dapat diminta untuk melakonkan situasi yang sama beberapa kali.

69. Pengamatan dan Pemberian Masukan Secara Aktif

URAIAN SINGKAT

Prosedur umum dalam menggunakan pengamat pada latihan drama atau sesi latihan ketrampilan adalah dengan menunggu hingga pementasan selesai sebelum meminta pemberian masukan. Prosedur ini memberi umpan balik yang sifatnya segera bagi si pemeran. Ini juga menjadikan pengamat untuk tetap siap selama pementasan.

PROSEDUR

  1. Buatlah latihan pemeranan di mana beberapa siswa memperagakan ketrampilan sedangkan siswa yang lain menjadi pengamat.
  2. Sediakan bagi pengamat daftar konkret tentang perilaku positif dan/atau negatif untuk diperhatikan. Perintahkan mereka untuk memberi isyarat kepada pemain drama ketika perilaku yang dikehendaki terjadi dengan isyarat yang berbeda bila perilaku yang tidak dikehendaki muncul. Isyarat yang bisa digunakan antara lain:
  • Mengangkat tangan
  • Meniup peluit
  • Menjentikkan jari
  • Tepuk tangan satu kali

Siswa di dalam pelajaran bahasa Spanyol konvensional, Misalnya, dapat menggunakan aktivitas ini untuk mempraktikkan tatabahasa. Guru menyiapkan 10 situasi yang berbeda dan meminta partisipan pemeran drama untuk memilih salah satunya dari sebuah topi. Sebelum peme­ranan lakon dimulai, siswa memilih isyarat untuk menandakan penggunaan tata bahasa yang tidak benar (menjentikkan jari) dan satu untuk dukungan positif (melambaikan tangan). Pemeran lakon dua siswa memulai dialog dalam bahasa Spanyol. Jika kemudian dijumpai kesalahan gramatika anggota, audiens dapat menjentikkan jari; untuk memberikan umpan balik positif, mereka melambaikan tangan. Variasi untuk menghindari interupsi terus-menerus adalah dengan menetapkan waktu interval satu menit dan memberikan penghargaan umum (jumlah jentikkan atau lambaian tangan) atau penilaian langsung.

3.   Jelaskan bahwa tujuan dari isyarat-isyarat itu adalah memberikan umpan balik segera kepada pemeran lakon mengenal pementasan mereka.

4.   Diskusikan pengalaman itu dengan pemeran lakon yang terlibat dalam pemeragaan ketrampilan. Cari tahu apakah masukan yang sifatnya segera itu membantu, ataukah justru mengganggu mereka.

VARIASI

  1. Beri kesempatan pengamat untuk menggunakan sebuah sinyal (misalnya, meniup peluit) untuk menghentikan aksi pemeran lakon dan mengajukan pertanyaan atau memberikan umpanbalik yang lebih rinci kepada para pemeran lakon.
  2. Rekamlah pemeranan lakon itu dengan kamera video. Jangan sampai ada yang memberikan masukan selama perekaman. Perintahkan siswa untuk menonton rekaman itu dan menggunakan isyarat yang baku pemutaran ulang ulang.

70. Pemeranan Lakon yang Tidak Membuat Grogi Siswa

URAIAN SINGKAT

Tehnik ini mengurangi ancaman atau rasa khawatir siswa dalam pemeranan lakon. Caranya adalah dengan menempatkan guru pada peran utama dan melibatkan siswa dalam memberikan respons dan menetapkan arah skenarionya.

PROSEDUR

  1. Buatlah peran lakon di mana anda akan menunjukkan perilaku yang dikehendaki, misalnya mengatasi orang yang sedang sangat marah.
  2. Beritahu siswa bahwa anda akan memegang peran utama dalam pemeranan lakon Itu. Tugas siswa adalah membantu anda mengatasi situasi.
  3. Perintahkan beberapa siswa untuk mengambil peran sebagai orang lain dalam situasi itu (misalnya, orang yang sedang marah). Berikan kepada siswa itu naskah pembuka untuk dibaca guna membantu dia memahami perannya. Mulailah pemeranan tersebut, namun hentikan pada beberapa selang waktu dan perintahkan siswa untuk memberikan umpan balik dan arahan seiring berjalannya skenario. Jangan ragu-ragu untuk meminta siswa memberikan panduan khusus untuk anda gunakan. Sebagai contoh, pada poin tertentu. tanyakan “Apa yang selanjutnya mesti saya katakan?” Dengarkan saran mereka dan kemudian cobalah.
  4. Lanjutkan pemeranan lakon agar siswa kian melatih anda tentang cara mengatasi situasi. Ini akan memberi mereka praktik keterampilan sementara anda melakukan pemeranan aktual bagi mereka.

VARIASI

  1. Dengan menggunakan prosedur yang sama, perintahkan siswa untuk melatih kawannya (Sebagai alternatif dari melatih gurunya).
  2. Rekamlah seluruh pemeranan lakon. Putar ulang dan diskusikan dengan siswa tentang cara lain untuk merespons poin tertentu dalam situasi itu.

71. Pemeranan Lakon Oleh Tiga Orang Siswa

uraiansingkat

Tehnik ini memperluas pemeranan lakon tradisional dengan menggunakan tiga siswa yang berbeda dalam situasi pemeranan lakon yang sama. Tehnik ini menunjukkan pengaruh dari variasi gaya individual terhadap akibat dari situasi itu.

PROSEDUR

  1. Dengan bantuan siswa, tunjukkan konsep dasar peme­ranan lakon (jika perlu) dengan sebuah situasi semisal siswa yang memprotes nilainya kepada seorang guru.
  2. Buatlah skenario dan jelaskan kepada siswa.
  3. Perintahkan empat siswa untuk mengambil peran karakter dalam pemeranan lakon. Tugaskan satu siswa untuk tetap menjadi karakter standar (misalnya, seorang guru) dan instruksikan tiga siswa yang lain bahwa mereka akan memainkan peran yang lainnya (misalnya sebagai siswa) secara bergiliran.
  4. Perintahkan tiga siswa secara bergilir untuk meninggalkan ruang dan memutuskan pada urutan mana ereka akan berpartisipasi. Bila sudah siap, siswa yang pertama kembali memasuki ruangan dan memulai peranan lakon dengan dua siswa lainnya.
  5. Setelah tiga menit, umumkan waktunya dan perintahkan siswa kedua untuk memasuki ruangan dan mengulang situasi yang sama. Siswa pertama kini dan  dapat tetap tinggal dalam ruangan. Setelah tiga menit dengan siswa kedua, lanjutkan dengan siswa ketiga dengan ulang skenario itu.
  6. Pada akhir pemeranan lakon, perintahkan siswa u niembandingkan dan membedakan gaya dan kpf siswa relawan dengan mengidentifikasi tehnik-tehnik mana yang efektif dan dengan mencatat bagian man saja yang perlu diperbaiki.

VARIASI

  1. Sebagai alternatif dari memimpin diskusi kelas, bagilah siswa menjadi tiga kelompok. Berikan satu dari tiga pemeran lakon kepada tiap kelompok. Perintahkan tiap kelompok untuk menentukan siswa yang akan memberi mereka umpan balik pendukung. Gunakan prosedur ini ketika anda merasa perlu mengurangi kemungkinan adanya rasa malu karena dilakukannya pembandingan antar para pemeran lakon secara terbuka.
  2. Untuk kelompok yang lebih besar, bagilah siswa menjadi tiga bagian dan ikuti prosedur penggiliran dari pemeranan lakon rangkap tiga. Siswa selanjutnya kembah ke posisi semula untuk membandingkan dan membe­dakan ketiga gaya pemeranan lakon tersebut.

72. Mengilir Peran

URAIAN SINGKAT

Aktivitas ini merupakan cara yang bagus untuk memberi kesempatan bagi tiap siswa untuk mempraktikkan ketrampilan melalui pemeranan lakon tentang situasi kehidupan nyata.

PROSEDUR

  1. Bagilah siswa menjadi kelompok-kelompok yang beranggotakan tiga siswa, yang tersebar di ruang kelas, dengan celah yang seluas mungkin antar ketiganya.
  2. Perintahkan tiap trio (kelompok tiga siswa) untuk membuat skenario kehidupan nyata yang membahas topik yang telah anda diskusikan.
  3. Setelah masing-masing trio menulis ketiga skenarionya pada lembar yang terpisah, satu anggota tim dari tiap kelompok menyampaikan skenario itu kepada kelompok selanjutnya dan sudah disediakan ketika anggota kelompok membaca skenario untuk mengklarifikasi atau memberikan informasi tambahan bilamana perlu. Siswa kemudian kembali ke kelompok aslinya.
  4. Secara bergiliran, tiap anggota trio akan memiliki kesempatanan untuk mempraktikan peran primemya (yakni sebagai orang tua), peran sekundernya (sebagai anak) dan pengamat.
  5. Tiap babak mesti berlangsung minimal 10 menit pemeran lakon, dengan 5 hingga 10 menit pemerian umpan balik dari pengamat. Andalah yang menentukan panjang tiap babak sesuai dengan waktu yang tersedia, topik yang dibahas, dan tingkat kemampuan siswa.
  6. Datam tiap babak, pengamat mesti berkonsentrasi pada pengidentifikasian apa yang dilakukan dengan baik oleh pemain primer dalam menggunakan konsep ketrampilan yang dipelajari di kelas dan apa yang dapat dia lakukan untuk memperbaikinya.

VARIASI

  1. Sebagai alternatif dari penugasan tiap kelompok untuk menulis skenarionya sendiri anda dapat mempersiapkan skenarionya.
  2. Sediakan lembar masukan bagi pengamat yang mengidentifikasi ketrampilan dan tehnik-tehnik khusus yang mesti ia cermati.

73.  Memperagakan Caranya

URAIAN SINGKAT

Tehnik ini memberi siswa kesempatan untuk mempraktikan, melalui peragaan, ketrampulan khusus yang diajarkan di kelas. Pemeragaan acapkali merupakan alternatif yang cocok untuk pemeranan lakon karena cara ini tidak begitu mengancam atau membuat siswa grogi. Siswa diberi banyak waktu untuk membuat skenario mereka sendiri dan menentukan bagaimana mereka ingin mengilustraikan ketrampilan dan tehnik yang baru saja di bahas di kelas

PROSEDUR

  1. Setelah berlangsungnya kegiatan belajar tentang topik tertentu, kenalilah beberapa situasi umum di mana siswa mungkin diharuskan menggunakan ketrampilan yang baru saja dibahas.
  2. Bagilah siswa menjadi sub-sub kelompok sesuai dengan jumdah peserta yang diperlukan untuk memperagakan sekenario yang ada. Umumnya diperlukan dua atau tiga siswa.
  3. Berikan sub-sub kelompok itu waktu 10 hingga 15 menit untuk membuat skenario tertentu yang mengbarkan situasi umum.
  4. Sub-sub kelompok itu juga menentukan bagaimana mereka akan memperagakan keterpilan itu kelompok. Beri mereka 5 hingga 7 menit untuk mempraktikkannya.
  5. Tiap sub kelompok akan mendapat giluran melakukan pemeragaan bagi siswa yang lain. Beri kesempatan adanya pemberian masukan setelah masing-masing pemeragaan selesai dilakukan.

VARIASI

  1. Anda dapat membuat sub kelompok dengan jumlah siswa yang lebih banyak untuk keperluan pemeragaan bertiindak selaku pembuat skenario, pengarah dan penasihat.
  2. Anda dapat membuat skenario khusus dan menugaskannya kepada sub-sub kelompok tertentu.

74. Pemeragaan Tanpa Bicara

URAIAN SINGKAT

Ini merupakan strateg untuk digunakan manakala anda mengajarkan prosedur setahap-demi-setahap. Dengan memperagakan sebuah prosedur tanpa banyak bicara, anda mendorong siswa untuk cermat secara mental.

PROSEDUR

  1. Tetapkan sebuah prosedur multilangkah yang anda ingin siswa mempelajarinya. Prosedur-prosedurnya antara lain mencakup yang berikut ini:
  • Menggunakan aplikasi komputer
  • Menggunakan peralatan laboratorium
  • Menjalankan mesin
  • Memberikan pertolongan pertama
  • Memecahkan soal matematika
  • Mencari materi rujukan
  • Menggambar atau melakukan kegiatan artistik lain
  • Memperbaiki peralatan
  • Menerapkan prosedur akuntansi
  1. Perintahkan siswa untuk memperhatikan anda memperagakan seluruh prosedur. Lakukan saja, dengan sedikit atau tanpa penjelasan atau komentar tentang apa dan mengapa anda melakukan hal itu. Beri mereka gambaran seklias tentang seluruh tugas. Jangan berharap  untuk melakukan pengulangan. Sampai di sini, anda baru mewujudkan kesiapan siswa untuk meipelajari
  2. Bentuklah sejumlah pasangan. Peragakan bagian pertama dari prosedur itu, sekali lagi dengan sedikit atau tanpa penjelasan atau komentar. Perintahkan pasangan untuk mendiskusikan apa yang mereka amati peragaan anda. (Mengatakan kepada siswa apa yang anda lakukan justru akan menurunkan kewaspadaan atau kecermatan mental mereka) Tunjuklah seorang siswa untuk menjelaskan apa yang anda lakukan. Jika siswa mengalami kesulitan. peragakanlah kembali. Hargaliah pengamatan yang benar.
  3. Perintahkan pasangan untuk saling mempraktikan bagian pertama dari prosedur itu. Bila mereka sudah menguasai bagian ini. lakukan pemeragaan bagian berikutnya dari prosedur itu tanpa bicara. diikuti dengan praktik berpasangan.
  4. Akhiri dengan memberi tantangan kepada siswa untuk melakukan seluruh prosedur tanpa bantuan.

VARIASI

  1. Jika memungkinkan, beri siswa tugas pembuka untuk mencoba prosedur itu sebelum pemeragaan. Beri kesempatan mereka untuk menduga dan maklumilah mereka jika terjadi kesalahan. Dengan melakukan hal ini, anda akan segera menjadikan siswa terlibat secara menjadikan siswa terlibat cecara mental. Selanjutnya, perintahkan mereka untuk mencermati apa yang anda peragakan.
  2. Jika ada beberapa siswa yang dapat menguasai prosedur itu lebih cepat dibanding yang lain, rekrutlah mereka sebagai “peraga diam.”

75. Pasangan dalam Praktik – Pengulangan

URAIAN SINGKAT

Ini merupakan strategi sederhana untuk mempraktikkan dan mengulang ketrampilan atau prosedur dengan pasangan belajar. Tujuannya adalah memasukan bahwa kedua pasangan dapat memperagakan ketrampilan atau prosedur Itu.

PROSEDUR

  1. Pilihlah sejumlah ketrampilan atau prosedur yang anda ingin siswa kuasai. Buatlah pasangan. Dalam tiap pasangan, berikan dua peran: (1) penjelas atau pemeraga dan (2) pemeriksa.
  2. Penjelas atau pemeraga menjelaskan dan/atau mem­peragakan cara mengerjakan ketrampilan atau prosedur tertentu. Pemeriksa memastikan apakah penjelasan dan/atau pemeragaan itu benar, memberi dorongan dan memberikan pelatihan bila diperlukan.
  3. Pasangan berganti peran. Penjelas/pemeraga yang baru diberikan ketrampilan atau prosedur lain untuk dikerjakan.
  4. Proses itu berlanjut hingga semua ketrampilan diulang.

VARIASI

  1. Gunakan ketrampilan atau prosedur multilangkah sebagai alternatif dari beberapa prosedur yang berbebeda. Perintahkan penjelas/pemeraga melakukan satu lakah dan perintahkan pasangannya melakukan langkah selanjutnya hingga urutan langkahnya lengkap.
  2. Bila pasangan telah menyelesaikan tugas merek buatlah sebuah peragaan di depan kelompok.

*Tehnik ini didasarkan pada “DrillReview Pairs” karya David W. Johnson, Roger T. Johnson, dan Karl A. Smith.